SANG HAFIDZ

SAAD ABI SALMAN

oleh: Dinda Kosy Nur Syavira

“shodaqallahul ‘adzim,” ucap seorang lelaki sambil menutup mushaf Al-Qur’an seusai menyetorkan juz 27 tanpa satu pun kesalahan. Andai ibunya masih ada, tentu ia akan tersenyum bangga. Dialah Saad Abi Salman, biasa dipanggil Saad, seorang hafidz berusia 17 tahun, santri piatu, dan hidup sederhana.

Kini Saad menghabiskan hari-harinya di pesantren tahfidz. Sehari-harinya ia muraja’ah, memperbaiki bacaan, dan menyiapkan setoran. Meski sederhana, tekadnya besar.

Sejak kecil Saad berniat menjadi hafidz. Tekad itu ia pegang erat, meski penuh rintangan.

“Setiap pagi sebelum setoran, Saad selalu menunjukkan semangat yang berbeda dari teman-temannya. Usahanya luar biasa. Bayangkan, satu juz penuh bisa dia kuasai hanya dalam sehari,” puji Pak Huda, guru pembimbingnya.

Tahun lalu, pada haflah wisuda, Saad hadir dengan senyuman tulus.

“InsyaAllah, semoga dimudahkan dan diridhai Allah,” ucapnya sambil tersenyum manis.

Di asrama, para santri menata hafalan mereka. Saad menyimpan mushafnya di lemari, melihat beberapa temannya sudah tertidur, lalu ikut merebahkan diri. Namun sebelum tidur, ia menata sajadah dan melaksanakan sholat witir dua rakaat, lalu berdoa dan berdzikir.

“Jangan lupa doa khusus, ya,” pesan Pak Huda.

Keesokan harinya, pukul 08.45, Saad menuju kelas hafalan untuk menyetorkan awal juz 28. Ia terus mengulang hafalannya agar lancar. Saat menyetor, air matanya menetes, mungkin teringat senyuman terakhir ibunya.

“Ya Allah, semoga Ayah tetap bangga dengan perjuanganku,” lirihnya dalam hati.

***

Saad bernadzar untuk terus menghafal per halaman, sesuai rutinitasnya. Malam tiba, giliran santri menyetor hafalan. Saat maju, Saad tiba-tiba merasakan dada kirinya sangat nyeri. Namun ia tetap berusaha melanjutkan bacaannya dengan tenang.

“Halaman awal juz 28, bagaimana tadi? Mau lanjut tiga halaman?” tanya Pak Huda.
“Enggak, Pak. Biar fokus saja,” jawab Saad sambil menahan sakit.

Selesai menyetor, ia memeluk mushaf erat-erat dan beranjak ke asrama. Sesampainya di kasur, tubuhnya ambruk. Teman-temannya menyangka ia hanya kecapekan, sehingga tak ada yang membangunkannya.

Saat fajar tiba, para santri kaget melihat Saad masih terbaring, wajahnya tenang dengan senyum di bibir. Salah satu dari mereka segera memanggil ustadz. Saad dibawa ke rumah sakit.

Di sisi lain, ayahnya, Pak Dinar, mendapat kabar melalui telepon.

“Ini benar wali Saad?” tanya Pak Huda.

“Iya, saya ayahnya. Ada apa, Ustadz?”

“Mohon maaf, Pak, Saad mendadak sakit. Sekarang sudah dibawa ke rumah sakit.”
“Ya Allah… baik, saya segera menyusul.” Dengan wajah cemas, Pak Dinar langsung berangkat.

***

Sesampainya di rumah sakit, Pak Dinar mendapati Saad terbaring lemas di IGD. Dokter menjelaskan, “Sepertinya Saad mengalami penyakit jantung. Jalan satu-satunya adalah operasi, meski risikonya cukup besar.”

Air mata Pak Dinar mengalir. “Tapi saya tidak punya biaya sebanyak itu,” ucapnya lirih.
“Tenang, Pak. Pihak pesantren siap membantu. Kasihan Saad, tinggal dua juz lagi. Biarlah ia melanjutkan perjuangannya,” sahut Pak Huda menenangkan.

Pukul 10 pagi, Saad dibawa ke ruang operasi. Pak Dinar dan para ustadz menunggu penuh doa.
“Santri ini luar biasa, Pak. Semoga Allah izinkan ia menuntaskan 30 juz,” ucap Pak Huda sambil menguatkan.

Dua jam berlalu. Dokter keluar dan tersenyum lega. “Alhamdulillah, operasinya lancar. InsyaAllah besok atau malam nanti Saad akan sadar.”

Saad dipindahkan ke ruang rawat. Tubuhnya masih lemah, namun selamat. Pak Dinar meneteskan air mata haru dan berterima kasih kepada Pak Huda yang selalu mendampingi.

***

Keesokan paginya, Saad siuman.

“Ayah… dada saya sakit,” lirihnya.

“Tidak apa-apa, Nak. Yang penting kamu selamat,” jawab Pak Dinar sambil menenangkan.

“Maaf, Yah. Saad selalu merepotkan.”

“Jangan bilang begitu. Kamu kebanggaan Ayah. Selesaikan saja dua juz terakhir, itu sudah cukup,” ucap sang ayah sambil menahan tangis.

Empat bulan berlalu, Saad kembali ke pesantren. Meski harus rutin kontrol, semangatnya semakin membara. Ia menuntaskan juz 28 dan 29 dalam tiga bulan.

Hari itu, Saad berhasil menyetor juz 29 dan 30 sekaligus hanya dalam waktu 30 menit. Pak Huda bertepuk tangan.

“MasyaAllah, saya sangat bangga padamu. Bulan depan kamu ikut ujian 30 juz. Semangat terus, demi ayahmu.” Air mata Saad menetes. Setelah bertahun-tahun berjuang, akhirnya ia menamatkan hafalannya. Sertifikat hafidz 30 juz sudah terbayang di pelukannya, untuk ia persembahkan kepada ayahnya.

***

Meski waktunya singkat, Saad mampu lancar dalam hafalan. Ia dibimbing senior yang sudah hafal 30 juz.

“Tiga hari lagi ujian, tetap semangat ya. Ayahmu pasti bangga,” kata seniornya.

“Iya, mohon doanya,” jawab Saad tersenyum.

Hari ujian tiba. Saad melantunkan 30 juz dengan metode sekali duduk. Meski sempat diulang hingga empat kali, akhirnya ia menuntaskan seluruh hafalannya.

Sepekan kemudian, hasil ujian ditempel di papan pengumuman. Nama Saad tercantum sebagai peserta lulus. Air matanya menetes bahagia.

Tanggal 5 Desember, saat wisuda tiba, Pak Dinar tak kuasa menahan tangis mendengar nama putranya dipanggil. Ia menyaksikan Saad menerima sertifikat dan piagam emas, dengan sorban kehormatan di pundaknya.

“Ayah… setelah ini Saad ingin jadi guru ngaji di rumah. Biar bisa muraja’ah,” ucap Saad dalam perjalanan pulang.

“Iya, Nak. Itu perjuangan mulia, asal niatnya lillahi ta’ala,” jawab Pak Dinar.

***

Hari-hari berjalan, Saad mulai mengajar di kampung. Meski sesekali rasa nyeri di dada datang, ia tetap tegar.

Tepat hari Senin, menjelang subuh, Saad terbangun. Ia berwudhu, sholat tahajud dua rakaat, lalu duduk membaca Al-Qur’an.

Kalimatullah terus ia lantunkan hingga adzan subuh berkumandang. Tanpa disangka, itulah lantunan terakhirnya. Saad menghembuskan napas terakhir dalam keadaan memeluk mushaf.

Pak Dinar yang masuk ke kamarnya sempat memanggil, “Saad, sudah bangun?” Namun yang ia dapati, putranya telah wafat dengan wajah tenang.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” ucapnya lirih sambil menangis.

Pukul 10 pagi, jenazah Saad dimakamkan. Pak Dinar mengenang perjuangan putranya dengan bangga. Sertifikat 30 juz itu menjadi bukti pengorbanan Saad, meski penuh sakit.

Saad meninggalkan dunia dengan senyuman, sebagai hafidz yang istiqamah hingga akhir hayat. [*]

TAMAT