• Home
  • /
  • Santri Legenda

Santri Legenda


Isa Murtadho

Bejagung, desa agak pedalaman yang berjuluk Desa Wali tiga hari ini sudah masuk dalam suasana kegemparan. Bagaimana mungkin di bulan September, saat desa-desa lain di sekitarnya diliputi kemarau panjang bahkan krisis air bersih, di Bejagung turun hujan selama 3 hari berturut-turut tanpa henti. Sebenarnya bukan kali ini saja hal-hal ganjil terjadi di desa Bejagung. Hal-hal mistis yang diluar nalar kerap terjadi di beberapa bulan belakangan ini. Apalagi jika memasuki bulan suro. Maklum disekitar Bejagung disamping dikelilingi oleh siti garet -garis gaib yang melindungi desa Bejagung- dan  makam para Waliyullah, juga ada satu makam yang lebarnya 3 meter dengan panjang sekitar 11 meter. Disanalah disebutkan Makam Patih Barat Ketigo, yang konon disebut makam Maha Patih Gajah Mada yang diceritakan dalam sejarah pewayangan sebagai tokoh moksa,jasadnya diangkat ke langit seperti nabi Isa A.S.

Wallahua’lam bishowab.

Awan hitam yang menyelimuti langit diatas desa Bejagung seakan berkumpul menjadi satu kesatuan. Ini hari ketiga yang paling parah, hujan disertai petir sambar menyambar di atas Pesantren Condromowo, Pesantren salafiyah yang juga mengajarkan ilmu kanuragan.

Suro Diro Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti, kalimat bertinta emas yang tepampang di gerbang pesantren berlatarkan warna gradasi merah dan hitam. Di kanan kirinya terpampang juga gapura tinggi menjulang berlatar motif gedog, khas dari Tuban yang menambah suasana mistis sebagai ciri khas pesantren ini. Jangan tanya santrinya, ratusan bahkan ribuan dari mereka kesemuanya adalah ahli puasa dan tirakat. Kisah cerita ini akan mengetengahkan kehebatan 4 santri Legenda Pesantren Condromowo, yakni Isa, Ipul, Cahyo, dan Khoirul dalam melindungi Megalamat, tombak pusaka yang mempunyai kehebatan kondhang kalaka, menghancurkan sepenuhnya tanpa menyentuh, seperti nuklirnya Kim Jong Un. Selama Kiyai pergi haji, merekalah yang diberikan amanah untuk menjaga pesantren sampai Beliau pulang dari tanah suci.

“Ada yang aneh beberapa hari ini, Kang!” Isa memandang keatas langit yang awanya berputar diatas langit pesantren.

“Iya. Dan ini adalah hari terparah, lihatlah! Astaghfirullah!” pekik Ipul sambil menunjuk keatas langit hitam yang terlihat berputar-putar seperti membentuk angin puting beliung. Semakin lama semakin membesar dan turun ke bawah.

“Kang, panggil Kang Cahyo dan Kang Khoirul, rupanya kita akan kedatangan tamu!” perintah Ipul sambil mengeluarkan tasbih hitam, berkomat-kamit membacakan dzikir.

“Baik, kita ketemu di Ruang Megalamat” tak menunggu 2 kali diperintah, Isa segera melompat kebelakang dan berlari menuju padepokan khusus Rois Pesantren. Ipul sendiri masih memejamkan mata memutarkan tasbihnya semakin cepat. Sejenak kemudian Ipul pun segera berlari menuju sebuah ruangan yang mereka sebut “Megalamat”, ruangan tempat menyimpan pusaka inti. Terlihat 3 pemuda duduk bersila dengan tasbih masing-masing ditangannya. Membentuk 3 arah mata angin dengan menghadap sebuah tombak tua bermata emas berdiri di tengah. Aneh memang, tombak dengan panjang sekitar dua setengah meter berdiri tegak ditengah tanpa alas maupun penyangga. Ipul segera bergabung duduk bersila. Sekarang lengkaplah Megalamat di kelilingi mereka dari 4 penjuru arah. Isa di sebelah utara, Cahyo di sebelah timur, Khoirul di sebelah Barat, dan Ipul di sebelah selatan. Mereka duduk bersila memejamkan mata, sambil mulutnya berkomat-kamit membacakan wirid. Tasbih keempatnya diputar terus, semakin cepat, semakin cepat, dan akhirnya berhenti serempak. Sebuah sinar keluar dari masing-masing ubun-ubun keempat santri itu. Sedangkan jasad mereka duduk bersila kaku seperti tanpa nyawa. Ngrogoh Sukmo, ajian ini telah terkenal di kalangan pesantren Condromowo. Ajian yang mampu mengeluarkan ruh dari raga dan kembali lagi pada saat yang diinginkan. Kemampuan khusus ini dapat digunakan saat para santri legenda ingin mengalahkan lawan dengan tanpa terlihat secara kasat mata, atau melawan para makhluk halus yang tak terlihat ingin membuat keonaran di lingkungan pesantren.

Empat sinar putih menyilaukan mata, sedikit demi sedikit membentuk sebuah bayangan putih berjubah. Roh empat santri legenda kini telah utuh keluar dari jasad mereka. Isa yang berdiri di sebelah utara menenteng sebuah gaman berupa keris berlekuk tujuh. Luk pitu, keris ini dikenal sangat ampuh untuk memagari diri. Dihadapannya terlihat Ipul yang masih komat-kamit memutar tasbih hitamnya dengan mata tertutup.

Cahyo, santri yang kini berdiri tegak di sebelah timur mengenakan sebuah rompi pelindung berbahan kulit kambing, Onto Kusumo. Rompi ini sendiri tak kalah hebat dalam hal untuk melindungi diri sang pemakai. Khoirul yang ada di penjuru barat malah memegang keris yang lebih panjang berlekuk tujuh belas. Yang konon keris luk pitulas ini dibuat oleh sahabat Sunan Kalijaga dengan nama “Keris Kyai Carubuk”.

Keadaan ruangan Megalamat secara kasat mata hanya hening seperti pada umumnya. Padahal dalam alam ghaib, tempat itu telah dikepung puluhan, bahkan ratusan bola api yang memutar mengelilingi ruangan 6×6 meter itu.

“Tenang, Kang. Fainsya Allah ini hanyalah Kemamang” kata Ipul setengah berbisik kepada teman-temannya. Belum sedetik setelah perkataannya, puluhan bola api itu menerjang empat kawanan santri itu. Ipul dan Khoirul terpelanting ke belakang menghindari banyaknya serangan bola api yang mengamuk. Beberapa yang dapat ditangkis dengan keris Khoirul, hanya memecah memercikkan api yang lebih besar, lalu bersatu kembali. Pertarungan mereka berdua melawan bola-bola api yang datang dari segala penjuru berjalan sangat sengit. Sesekali Ipul harus terpelanting dengan bibir mencium tanah, karena kewalahan serangan musuh gaibnya.

“Ini bukan Kemamang biasa!” pekiknya sambil mundur beberapa langkah, setelah kepalanya terasa pening terhantam satu bola api yang besar. Begitu pula Khoirul, dia sesekali terlihat memegangi pundak kirinya yang mulai terluka.

Isa dan Cahyo sendiri masih berdiri tegap diliput cahaya putih memutar, tanpa tersentuh bola-bola api gaib itu. Isa yang melihat kedua temannya mulai terpojok, kini mulai memainkan perannya. Dia mengayun-ayunkan keris Luk Pitunya ke segala arah, dan anehnya tak satupun dari bola-bola api itu berani mendekat. Santri dengan rambut agak panjang itu segera merapat bersama Ipul dan Khoirul, sedangkan Cahyo masih terlihat komat-kamit dengan tangan bersedekap.

“Saya rasa kita harus segera mengakhiri pertempuran ini, Kang!” ucap Isa sambil berdiri waspada diantara Ipul dan Khoirul.

“Betul, saya rasa juga begitu!” jawab Ipul segera.

“Saya merasa ini hanyalah permainan pasukan kecil dari raja atau ratu mereka yang belum muncul” imbuhnya dengan nafas setengah ngos-ngosan.

“Cahyo, lindungi Ipul biar dia mengambil Megalamat. Kang Khoirul, coba sampean alihkan perhatian mereka” perintah Isa sambil mengangkat kerisnya diatas kepala.

Rencana segera dijalankan, Khoirul berlari ke depan dengan menghunuskan senjata kerisnya. Sedangkan Cahyo yang sedari tadi diam, kini mulai menandakan pergerakan serangan, Tubuhnya berputar cepat, dan lebih cepat membentuk angin puting besar yang menggulung bola-bola api itu.

Ipul yang sedari tadi memang sudah memasang kuda-kuda tidak menyia-nyiakan kekacauan itu. Ia berlari ke arah Megalamat untuk mencabut pusaka itu dari warangkanya.

Sementara Cahyo terus  menggulung ratusan bola api gaib itu diatas. Angin puting beliung yang tadinya memancarkan kilauan sinar putih, kini telah berubah sebagai topan api. Semakin lama, semakin membesar dan menjulang keatas langit yang masih menghitam.

Ipul yang telah menggenggam Megalamat, berkomat-kamit membaca wirid. Dengan suaranya yang memekik dan lantang ia kemudian menghujamkan senjatanya itu ke arah langit, tepat di tengah-tengah gulungan topan api yang membara.

“Bismillah, Allahul Qodir!!” sekuat tenaga ia melemparkan tombaknya ke arah gumpalan api raksasa di angkasa.

Megalamat menghujam cepat membelah puting beliung yang tadi diciptakan Cahyo. Sungguh pemandangan yang menyilaukan, gumpalan api itu kemudian pecah dan menimbulkan ledakan yang teramat dahsyat di angkasa. Hujan api menyelimuti seluruh penjuru. Cahyo dan Isa secepat kilat menyambar tubuh Ipul dan Khoirul, melindungi mereka dari percikan kembang api itu.

“Allahu Akbar!, Allahu Akbar” pekik Khoirul dalam dekapan Cahyo. Keempatnya terlindungi oleh sinar putih yang menyelimuti dari segala api yang jatuh.

Megalamat jatuh kembali pada tempat semula. Menancap disamping alasnya, yang kami sebut sebagai Warangka.

“Kang lihat itu!’ Cahyo kembali berteriak lantang sambil jari telunjuknya mengarah ke angkasa. Sinar-sinar api  kecil yang tadinya jatuh, kini mulai bergerak mengelilingi mereka, kemudian melayang ke atas, kembali berkumpul menjadi gumpalan api yang semakin lama semakin membesar. Gumpalan-gumpalan api itu kini membentuk sebuah makhluk raksasa berwajah mengerikan dengan dua sayap api.

Makhluk itu sekarang sudah berubah bentuk secara sempurna. Di wajahnya yang rata, hanya ada mata satu ditengah dan mulutnya yang mengeluarkan semburan api. Matanya juga memancarkan cahaya merah yang amat menyilaukan.

“Hati-hatilah, Kang! tamu kita ini rupanya bukan makhluk sembarangan” ucap Khoirul yang sedari tadi memegang pundaknya, kesakitan.

“Hai Bocah-Bocah ingusan. Serahkan tombak itu, atau akan aku jadikan kalian sebagai santapanku yang lezat” ucap makhluk itu mengancam mereka.

“Wahai makhluk apapun kamu, Demi Allah! Saya tidak akan menyerahkan pusaka ini kepadamu sebelum saya mati. Sangat berbahaya jika pusaka ini jatuh kepada iblis macam kamu!” jawab Ipul yang kini telah berdiri gagah memegang Megalamat di tangan kanannya.

“Hahaha, berarti saya tidak perlu berbasa-basi lagi wahai Bocah!” jawab makhluk laknat itu sambil bergerak secepat kilat melesat menghujamkam senjata trisulanya. Keempat santri yang diserang secara mendadak potang-panting menghindar, apalagi Khoirul yang kelihatannya sedang terluka parah.

Keempat santri itupun terpental berguling-guling ke tanah. Isa yang juga mulai kelelahan berusaha bangkit, ia mendatangi Cahyo dan menyatukan diri mereka dengan cara sama-sama menyilangkan kedua tangannya diatas dada. Ipul sendiri yang menjadi target serangan harus pontang-panting menghindari serangan trisula dan semburan api sang iblis. Lama-kelamaan dia mulai terpojok dan hampir saja diterkam makhluk jadi-jadian itu.

Beberapa saat berlalu, kini Cahyo dan Isa membentuk sebuah pagar bulat seperti perisai dari gumpalan sinar putih yang sangat kuat. Ia segera mengarahkan kurungan sinar putih itu kepada sang iblis, sehingga kini iblis itu seperti terkurung dalam bola itu.

“Kang, perisai ini tidak akan bertahan lama. Kekuatannya terlalu besar!” pekik Cahyo dengan masih menyilangkan kedua tangan.

Khoirul yang berada paling dekat dengan makhluk itu segera menghujamkan kerisnya. Tapi dengan gesitnya Sang Iblis yang telah bebas, dapat menghindari serangan keris Kyai Carubuk.

Cahyo dan Isa juga tidak menyangka bahwa perisainya hanya mampu menahan sepersekian detik saja. Padahal itu adalah gabungan kekuatan Luk Pitu dan Onto Kusumo.

“Hahaha, meleset!” teriak iblis sambil terkekeh sombong.

Ia tidak menyadari bahwa pergerakannya ke belakang tadi justru kini sudah dinanti oleh Ipul yang sudah siap sedia dengan Megalamat. Tak perlu berpikir panjang, Ipul segera menghujamkan tombaknya dari belakang, tepat mengenai tubuh bagian belakang makhluk terlaknat itu.

Jerit lengkingan iblis itu seakan memecahkan gendang telinga, disusul ledakan teramat dahsyat yang mementalkan keempat santri legenda. Mereka semua kini sekarat.

***

Mata mereka perlahan terbuka satu persatu. Empat santri legenda yang pingsan, kini tersadar kembali setelah 2 hari dirawat di Darussyifa. Awan hitam yang menyelimuti langit diatas desa Bejagung telah sirna 2 hari yang lalu. Hujan disertai petir yang kemarin sambar menyambar di atas Pesantren Condromowo kini juga sudah berganti dengan awan biru yang cerah. Kehidupan para santri di Pondok Pesantren yang mengajarkan ilmu kanuragan ini juga sudah berjalan normal. Seakan tidak ada apa-apa, para santri dan masyarakat desa Bejagung pun beraktifitas seperti hari-hari sebelumnya. Karena keganjilan dan pertempuran itu kasat mata, hanya bisa dilihat oleh orang dengan kemampuan istimewa.

end

(CE.Ad)

Leave Your Comment Here